"Jangan asal copy paste." Slogan ini sudah sejak lama saya dengar di dunia blogger, dan pencetusnya adalah anak-anak
Blogfam (kalau ndak salah).
Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Secara, saya tak pernah berpikir suatu saat nanti isi blog atau artikel saya akan di bajak oleh orang lain. Maklum saja, apa yang saya tulis tidak jauh-jauh dengan hobby dan kegiatan saya sehari-hari. Jadi kemungkinan isinya tidak berguna bagi orang lain.
Tapi, kenyataannya berbeda. Beberapa kali saya coba googling dan menemukan beberapa artikel saya di copy paste atau di pajang di blog orang lain. Entah apa maksudnya hingga memasang artikel saya!
Mungkin mereka ini malas menulis hingga memajang tulisan orang untuk meramaikan blog-nya. Atau memang artikel tersebut berguna baginya!? ATAU, artikel saya di gunakan untuk keperluan komersil!?
Well, saya tak tau alasannya. Dan saya pun malas untuk menanyakan kepada yang bersangkutan.
Bila alasannya, artikel saya berguna baginya, dan ketika memajang artikel tersebut ia mencantumkan sumber tulisan tersebut, saya sih tidak terlalu ambil pusing, malah saya senang karena tulisan saya berguna bagi orang lain. TAPI, bila ia memajang artikel saya tanpa menyebutkan sumbernya, wah... rasanya sedih sekali, sudah capek-capek menulis tapi tulisan itu diAKU oleh orang lain. Yang lebih menyedihkan, bila BLOG tersebut adalah blog terselubung, blog yang digunakan untuk memajang iklan ADESENSE-nya.
Wih, untuk alasan yang ini saya sih sangat-sangat kesal. Saya sadari, dunia maya ini tak berbatas, dan belum ada payung hukum-nya untuk bisa mengadili orang-orang seperti ini. Tidak ada yang dapat saya lakukan. Saya hanya bisa mendoakan semoga cara pandang dan cara berpikir mereka menjadi dewasa, dan tidak se-enaknya mencopy paste tulisan orang lain.
Anyway, JURNAL ini saya buat bukan untuk menghakimi orang-orang yang gemar copy paste. Jurnal ini hanya sebagai sarana CURHAT saya saja.
Tapi.
Bila.
Jika, ternyata jurnal ini di baca atau 'ngena' di hati mereka, well... saran saya "Belajarlah menulis artikelmu sendiri. Karena dengan mencopy paste karya orang lain, sama saja kamu menbodohi dirimu sendiri." (SA/2008)
Kerap kali rasa lelah, rasa jenuh bekerja di kantor menghinggapi saya. Saat rasa itu menyerang, ingin seketika berhenti saja dan menjadi Full Time Mother. Tetapi, bila mengingat angkah-angkah yang tersusun rapi di file ‘pengeluaran rutin bulanan’ memaksa saya untuk tetap bersabar lagi dan lagi.
Pernah suatu ketika, suami mengatakan “Jadi FTM aja Bun, asalkan Bun mau ngirit, InsyaAllah cukup kok!” Tapi, saya sedikit takut mengambil keputusan. Saya merasa masih mempunyai tanggung jawab untuk membantu keluarga. Masih ada Ayah yang butuh biaya untuk berangkat Haji tahun ini, masih ada adikku yang sedang mengambil gelar masternya dan juga butuh biaya, masih ada ponakan yang juga butuh bantuan, dan tentu saja masih ada mimpi yang ingin kugapai.
Sungguh anehnya saya ini. Ketika saya ditawarkan menjadi FTM, saya merasa takut. Dan ketika saya dihinggapi rasa lelah/kejenuhan dalam bekerja, saya ngotot sekali ingin segera menjadi FTM. Apa lagi saat, buah hati tercinta dengan polosnya melarang saya untuk bekerja. Huhuhu ingin sekali saya STOP melakukan pekerjaan yang sangat saya cintai ini.
Saat-saat seperti inilah saya merasa saya seperti berada di ‘grey area’ susah menentukan apa yang sebenarnya akan saya pilih? Apa yang sebenarnya saya inginkan?