The Amriza Family

Berbagi Ilmu dan TIPS kepada siapa saja

Showing posts with label FF. Show all posts
Showing posts with label FF. Show all posts

FF: D&L-2. Berubah?

Jenis: Flash Fiction Bersambung
Chapter: satu
Word: 153 Words
Created: Nov 17, 2006
Last Edited:

"Lina tunggu," panggil deni dari belakang, aku menghentikan langkahku tanpa menoleh padanya "Lin, ada apa? kenapa kamu menghindariku?" tanyanya lagi, ia memegang lenganku "Lin, aku salah apa? Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?."

Apa aku berubah? Aku tidak merasa menghindarinya. Itu pasti perasaan Deni saja.

"Berubah? Itu perasaan mu saja den," jawabku.

"Kamu berubah Lin."

"Saya biasa saja kok!, gak ada yang berubah" jawabku, mencoba meyakinkannya.

"Trus kenapa kamu tidak melihatku? Ini bukan seperti kamu yang saya kenal!" ujar deni.

Bagaimana aku bisa melihatmu kalau hati ini tidak sanggup melakukannya. Aku takut kalau aku akan semakin sakit menerima kenyataan itu, kenyataan kalau ternyata kau mencintai Adikku, Liza. Aku tidak tau kenapa aku bersikap begini padamu!.

"Saya sedang terburu-buru, mau ke perpus!" jawabku dan segera berlari meninggalkan-nya. Deni mencoba memanggilku, namun aku tidak berhenti karena aku malu pada diriku sendiri, aku malu kalau ia melihatku sedang menangis, menangisi kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan!.

FF: Gila Kerja...

Category: Flash Fiction
Word: 221 Words
Date: November 7, 2006

"Belum pulang, Mbak?" tanya Office Boy kantor.

"Belum di jemput!," jawabku gelisah, kulirik jam tangan, jarum jam sudah menunjuk-kan pukul 8 malam!. Tumben jam segini Andi, suamiku belum juga sampai?, tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba saja Handphoneku berdering, tertera nomor Andi di layar handphone "Hallo, mas sudah di mana?" tanyaku setengah merajuk, aku tau ia pasti akan memberi jawaban klise seperti biasanya, jadi tidak akan ada gunanya kalau aku harus mebuang energiku untuk marah!.

"Maaf ini baru keluar dari ruang meeting," jawabnya.

"Kenapa gak bilang kalau mas mau meeting," ujarku mencoba menahan diri untuk tidak marah "mas, kantorku sudah gelap nih..., tinggal aku sendiri di kantor!" aku memang tinggal seorang diri di lantai ini, semua rekan kerjaku sudah pada hilang sejak jam enam tadi.

"Sabar ya sayang," ujarnya lembut Andi sedang mencoba menenangkanku, itu memang jurus ampuhnya. Setiap kali ia harus lembur dengan tiba-tiba ia pasti meminta maaf dan merayuku, anehnya selalu saja aku luluh dengan rayuannya "ini mas sudah mau jalan kok!" lanjutnya.

Aku beranjak meninggalkan ruanganku menuju lobby di lantai satu, rasanya lebih nyaman bila menunggunya disana. Namun baru saja pintu lift terbuka, tiba-tiba handphoneku berbunyi dan nama andi muncul di layar handphone!

"Sayang, maaf ya aku harus meeting dengan Pak Danu di Mulia Hotel" ujarnya merasa bersalah.

Rasanya kesabaranku sudah habis, ingin rasanya aku teriak, Dasaaarr!!! Gilaa Kerja....

FF: D&L - 1. Bersemu Biru

Category: Flash Fiction Word: 195 Words Date: November 7, 2006 Last edited: November 11, 2006

"Ada apa?" tanyaku penasaran melihat Deni, sahabatku.

"Gak ada apa-apa!" jawabnya singkat.

"Gak ada apa-apa?" ujarku mengulang kalimatnya, aku tau ia sedang berbohong, sorot matanya berbinar-binar dan ia tersnyum misterius "lalu kenapa kamu senyum-senyum aneh begitu?" lanjutku tidak percaya.

"Bener, gak ada apa-apa kok!" jawab Deni mencoba meyakinkanku.

Katakan saja Den, aku sudah siap kok menjadi kekasihmu. Apa lagi yang kau tunggu? Kita kan sudah cocok dan serasi. Pertemanan kita juga sudah lama terjalin. Dulu memang aku tidak menaruh hati padamu. Namun, karena seringnya kita bertemu membuatku berubah pikiran. Aku sudah siap, benar-benar siap, gumanku meyakinkan hati.

"Leni..." panggil Deni, membuyarkan lamunku, ia tersenyum aneh lagi "saya" ujarnya, lalu diam dan tidak meneruskan kalimatnya.

Aku menunggu ia menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, namun ia hanya terdiam memandangku dengan binar mata yang aneh.

Dan rasa sabarku-pun sirna. "Ia" ujarku mencoba memecah kebisuan itu "kenapa den?" tanyaku pelan.

Seketika raut mukanya berubah serius, dan ia terlihat semakin tampan "saya naksir" ia berhenti lagi, dan menatapku tajam. Sesaat mata kami beradu, binar matanya meyakinkanku kalau Deni adalah pacar ideal buatku "saya naksir adikmu, Liza" lanjutnya membuyarkan hayalku, raut wajahnya bersemu merah dan raut wajahku langsung bersemu biru!.

[FF] Hanya Ingat Itu...

Category: Flash Fiction
Word: 205 Words
Date: November 3, 2006
Last edited:

Aku mendapati diriku terbaring lemas di ruangan yang serba putih, sorot lampu menyilaukan pandanganku. Ada Ibu, ayah dan kedua adikku disana.

Mereka tersenyum padaku saat kubuka kelopak mataku yang terasa berat, dan akupun membalas senyum bahagia meraka.

Aku mencoba bangun dari tempat tidur itu, namun badanku terasa kaku luar biasa. "Aku di mana bu?" ujarku pelan "kenapa ibu menangis?" tanyaku lagi.

"Kamu di rumah sakit sayang" ujar ibuku lembut dan mencium pipiku.

"Dina," panggil ayahku lembut, aku menoleh padanya "kamu kecelakaan nak, mobil kamu menabrak pembatas jalan tol" ujarnya lirih.

Aku bingung, shock dengan apa yang baru saja mereka katakan "Apa yang terjadi yah? Sudah berapa lama aku disini?" tanyaku.

"Nak," ujar ibuku, sambil memegang tanganku "kamu koma setelah kejadian itu, dan ini sudah hari ke 382 kamu terbaring disini" air mata ibu kembali berlinang.

Aku tidak ingat dengan kecelakaan itu. Aku hanya ingat kalau sore itu aku di pecat dari kantorku, aku dipecat setelah aku mengabdi selama 7 tahun di perusahaan itu, aku di pecat dengan tidak manusiawi!.

Terngiang di telingaku saat Pak Dibyo manager HRD menyampaikan berita duka itu "Saudari Dina, anda termasuk dari 10 orang karyawan yang di PHK ! ini hari terakhir saudari berstatus sebagai karyawan disini." Aku hanya ingat itu!.

[FF] Bejoo Bejoo Eling Jo!

Created: October 6, 2006
Noted: Word 473
Last Edited: November 15, 2006

"Selamat siang, bisa bicara dengan Dedy?" ujar Bejo.

"Dedy? Maaf bapak salah sambung" jawab cewek di ujung sana, dengan suaranya yang lembut dan centil.

Bejo langsung klepek-klepek dan spontan mengeluarkan jurus andalannya, merayu cewek-cewek di telpon.

"Oh salah sambung," ujar bejo sambil melemparkan senyum nakalnya "kalau nama embak siapa? Boleh kenalan gak?" lanjutnya lagi, ia berusaha merayu si cewek.

Obrolan seperti diatas hampir setiap hari jadi santapanku di kantor, lumayan bisa jadi hiburan bila stres melanda kami.

Rayuan gombal itu dilakonkan oleh rekan sekerjaku, Bejo di divisi Marketing. Ia paling senang merayu cewek – cewek di telpon. Anehnya para cewek yang di rayu selalu terpancing dengan rayuan-nya.

Kami kadang bingung, kok bisa ia memperdayai para cewek itu?. Suara bejo kan tidak terdengar merdu apa lagi seksi!. Bejo hanya pintar bicara saja, maklumlah dia kan seorang marketing handal di kantor kami.

Tapi tidak semua usaha bejo ini berjalan dengan mulus. Beberapa kali ia di tolak mentah-mentah oleh gebetannya "Halo dewi, apa kabar?," ujar bejo suatu saat mulai menjalankan aksi gebetnya "ketemuan yuk?" pancing bejo, Dewi adalah cewek yang sudah 3 hari lalu ia kenal dan tiba saat nya untuk mengajaknya bertemu.

"Jo, kamu yakin mau ketemu aku?" jawab dewi malu-malu "aku kan jelek jo!" lanjutnya pelan.

Senyum nakal bejo mengembang "Tenang wi, aku juga jelek ko" ujarnya lembut. Bejo memang tidak ganteng, wajanya pas-pasan untuk ukuran marketing.

Rayuan gombal bejo sudah mulai berhasil, sepertinya dewi sudah setuju untuk bertemu di sebuah mall di Jakarta pusat.

"Ok Jo, aku mau" jawab dewi "tapi, kamu antar aku pulang !" lanjutnya. "OK, aku antar pakai motor ya wi!" jawab bejo semangat. Dan seketika sambungan telpon putus.

Bejo terdiam memandangi gagang telpon "Hallo, hallo..." ulang bejo berkali-kali.

Bejo-bejo, hari gini ngajak cewek kencan ya modal dikit dong, ledekku pada bejo. Seperti ini kalau bejo di tolak, ia memang selalu tidak modal kalau mau mengajak ketemu para cewek-cewek gebetannya itu .

Suatu hari bejo juga kena getahnya, ceritanya begini:

Aku: "Jo , line 2 buat lo tuh"
Bejo: "Sapa nek? Cewek?" (Nek? Itu panggilan ku di kantor, aku bingung padahal aku masih muda belia begini kok di panggil nenek, nasip nasip...!)
A: "Iya cewek, gebetan lu kali!" ujarku cuek tanpa menoleh padanya.
B: "Hallo!, selamat siang..." ujarnya dengan sura yang di buat centil sekali.
Si Penelpon: Hallo Mas..!
B: "Eh... mama, ada apa ma?" jawab bejo langsung berubah jaim.

Aku langsung terbahak-bahak melihat bejo yang langsung berubah jaim "Gile lu nek... bini gua tau!" ujar bejo setelah menutup telpon.

"Lah! kan tadi elu yang nanya, Cewek ya? Ya... gue jawab iya" jawabku membela diri dan masih tertawa.

"Ya bilang aja itu bini gue nek..." ujar bejo kesal.

"Makanya jo... jangan gebetan mulu, ingat bini dan anak lu" balasku.

Ya begitulah kisah si Bejo sang Buaya darat beneran, selalu ngaku SINGLE padahal udah punya istri dan dua anak. Bejoo... bejoo...Eling Jo...!

[FF] Pelupa!

Saat itu aku masih terlelap dalam tidur. Dan tiba-tiba saja:
Suami: "Selamat Ultah sayang" (menciumku)
Istri: (Terkantuk-kantuk ngelirik suami dan bengong tanpa kata)
S: "Maaf aku telat tiga jam ngucapinnya, soalnya aku ketiduran" (memeluk dan menciumku lagi)
I: "Ngantuk nih! jangan ganggu donk" (masih kesel soalnya ia ngucapin ultahnya telat satu hari)
S: "Ya udah bobo lagi ya sayang" (sambil meluk dari belakang. Dan aku menghadap tembok!)


Sepanjang pagi aku berusaha menyibukkan diri bermain dengan putra kami tanpa memperdulikannya. Sepertinya ia penasaran dengan sikapku, maka terjadilah percakapan kecil di kamar :
S: "Ko ngambek sih? Kan aku telat berapa jam saja? "
I: "Gak' ngambek ko!, udah jangan dibahas lagi aku jadi sedih!".
S: "Jangan sedih dong kan hari ini ultah kamu".


Aku berlalu meninggalkannya dan menuju kamar mandi. Setelah rapi berpakaian kami akhirnya berangkat menuju kantor.

Sepanjang jalan aku hanya diam, lalu aku teringat kembali kejadian subuh tadi dan pagi ini. Aku langsung curiga jangan-jangan ia salah tanggal?
I: "Menurutmu ini tanggal berapa?"
S: "Tanggal 3 Maret donk sayang, maafin ya aku telat 3 jam ngucapin Selamat Ultahnya!" ujarnya sambil tersenyum manis padaku.
I: "Tapi! Ini kan tanggal 4 Maret." Ujarku lirih dan bertambah kesal!.

** May 2006 [ 196 Kata ]
** FF = Flash Fiction

Info Pic: Take from Movie "TITAN AE"

[FF] N G I N T I P !

Category: Flash Fiction
Word: 323 Words

Nikmatnya nyeruput kopi panas di pagi hari, di temanin sebatang rokok kretek hasil comot dari kantong Likin yang masih terlelap dalam tidurnya, rupanya ia lembur lagi semalam.

Dordordor.. terdengar pintu kontrakankku di gedor dari luar dengan kasarnya "siapa sih pagi-pagi sudah namu?," aku beranjak menuju pintu. Baru saja tanganku akan meraih gagang pintu, kembali terdengar suara gedoran yang makin dasyat, saking dasyatnya tetangga radius 3 km juga bisa mendengar suara gedoran itu.

"Oh mbak, ada apa?" rupanya Mbak Desi yang ngontrak persis di sebelah kontrakanku, kami sama-sama kontrak di rumah kontrakan Bu'le Wardi. Aneh mau apa ia pagi-pagi gini, dan tumben ia namu ke kost kami?, gumanku dalam hati.

"Kamu Yadi kan?" tanyanya penuh amarah sambil menunjukku dengan jemari kecilnya yang hampir saja mencolok mataku.

"Iya, kenapa mbak" jawabku sedikit kaget.

"Kamu jangan kurang ajar sama perempuan ya!" ucapnya dengan nada yang semakin tinggi, kemarahannya pun terlihat tidak dibuat-buat.

Membuatku jadi serba bingung ko pagi2 dapat makian seperti ini "Saya salah apa Mbak?" tanyaku lagi.

"Jangan pura-pura ya?, kamu kan ngintip saya sedang mandi, ayo serahkan rekamannya, serahkan buktinya," bagai di sambar petir di pagi nan cerah ini aku kaget karena di vonis ngintip.

"Hah! Ngintip? Yang benar saja? Saya ga ngintip mbak!" ujarku membela diri.

"Kamu jangan bohong, ayo ngaku saja dan serahkan rekamannya!" paksanya lagi.

"Rekaman apaan sih mbak? Saya gak punya barang-barang seperti itu, HP aja gak ada" ujarku lagi.

"Kamu jangan main-main ya, kamu bisa tau akibatnya kalau dalam waktu 24 jam kedepan kamu tidak ngaku dan menyerahkan rekamannya!" ujarnya mengancamku dan berlalu meninggalkan diriku yang terbengong-bengong, membuatku menginggat kejadian beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku melihatnya mandi di lantai 2 kontrakan kami melalui celah dari tripleks yang dipasang tidak rata oleh Pa'Le Wardi.

Kuisap sisa rokok kretek yang masih terselip di jemariku dan bergegas masuk kedalam.

(Terinspirasi oleh kisah nyata yang dialami oleh seorang teman di Mangga Besar , Jaksel-Jan 2006)

FF: Salah Sambung Ko Diangkat?

Category: Flash Fiction
Dated: April 26, 2006
Word: 505 Words

Konsentrasiku buyar oleh dering telpon di sudut sana, aku kehilangan greget adegan haru biru pertemuan Kim dan Soo di salah satu episode Drama Korea berjudul Love for the first side yang sedang aku tonton dan sangat menyita waktuku belakangan ini.

Ya, aku memang lagi tergila-gila dengan drama Korea.

"Sial ganggu aja nih," umpatku dan bergegas memencet tombol PAUSE pada remote control, dengan malasnya aku menyeret kedua kakiku menuju telpon disudut ruangan yang jaraknya hanya 3 meter dari tempat aku nonton.

"Selamat siang," ucapku singkat.

"Siang bu," ujar seseorang diujung sana, suaranya terdengar sangat sopan dan berwibawa.

"Ini siapa," ujarku ketus, aku masih kesal karena di interupsi dari acara favoriteku.

"Maaf, apa benar ini kediaman Bapak Soeryo?" tanyanya sekali lagi, suaranya masih terdengar sopan.

"Betul, tapi bapak lagi ga ada!, Ada pesan ?" ujarku lagi-lagi ketus, ingin sekali aku memutuskan sambungan telpon saat itu.

"Maaf, saya bicara dengan siapa?" tanyanya lagi, dan membuatku semakin kesel, ngapain sih dia pingin tau aku ini siapa? tanyaku sewot di dalam hati, wajah-wajah aktor Korea kembali bermunculan di benakku seolah-olah mereka memanggilku untuk segera kembali menonton.

"Saya anaknya, ada pesan?" tanyaku singkat. dan frustasi karena bapak di ujung sana tidak jua mengerti dengan kondisi saat ini.

"Baiklah kalau Adik ini anaknya, Nama saya Prawoto dari UGD RS Permata Sejahtera. Saya ingin mengabarkan bahwa Ayah anda mengalami kecelakaan!" ia berhenti sejenak, ia sengaja mengukur waktu, ia sedang menunggu reaksiku, dan aku sangat terkejut dengan berita yang baru saja ia sampaikan, bagai di siram bergalon-galon air dingin badanku serasa langsung kaku, bibirku pun sangat susah untuk di gerakkan "halo halo Adik masih disana?" teriaknya, terdengar panik.

Bibirku semakin susah untuk di gerakkan, tak terasa pipi ini sudah basah oleh air mata yang mengalir "beliooo gimana apakah selamat atauu..?" tanyaku gugup.

"Maaf dik, belio tidak selamat dalam kecelakaan tersebut, belio telah wafat sebelum tiba di RS" ujarnya tenang.

Dan sekali lagi tubuhku merasakan sensasi yang luar biasa hebatnya, kalau tadi badanku spontan kaku dan tak bisa bergerak, saat ini aku langsung lunglai dan terduduk di lantai, gagang telpon lepas dari peganganku, diujung sana terdengar bapak itu memanggilku berulang-ulang.

Dengan sekuat tenaga aku coba meraih gagang telpon itu "Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun," hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirku yang kaku.

"Adik, silahkan segera kesini untuk mengidentifikasi Jasad Bapak Soeryo Atmaja dan segera di bawah kerumah duka," ujarnya tetap sopan dan terdengar penuh simpatik.

"Apa!!," ujarku cepat, aku ingin memastikan apa yang baru saja ia katakan "Tadi bapak bilang apa?" ulangku lagi, spontan aku langsung mendapatkan kekuatan yang sangat besar, membuatku langsung berdiri dengan tegap.

"Maaf, maksud adik?" katanya singkat.

"Tadi bapak bilang Soeryo Atma..." ujarku sekali lagi.

"Oooh itu, Adik secepatnya kesini saja biar jasad Bapak Soeryo Atmaja segera di bawah kerumah duka" ulangnya masih tetap sabar, suaranya terdengar penuh simpatik yang demikian dalam.

"Jadi yang kecelakaan itu Soeryo Atmaja? tapi Ayah saya namanya Soeryo Syaputro, wah bapak salah sambung nih, gimana sih!" ujarku kesel dan juga legah.

"Bagaimana sih, salah sambung ko diangkat!" dan di ujung sana terdengar nada tuut..tuut..tuut..[SA]

The Amriza

Popular Posts

My Biz Online!

Ngobrol Yuk...

Gtalk: aurelly.one

My Email:
bunda.ryu@gmail.com